Saturday, July 28, 2012

Istiqarah Dengan Al-Quran dan Tasbih

assalamulaikum..........

salam... pertama kali mendengar istiqarah dengan al quran dan tasbih kan? sebelum ni kita hanya tahu istiqarah dalam sembahyang untuk mendapatkan apa yang terbaik untuk hidup kita... saya pun baru tahu setelah terbaca satu blog ini... saya ingin berkongsi bersama rakan2...


Tanya: Apakah istikharah dengan menggunakan Al-Qur’an dan Tasbih memiliki bukti-bukti kebenaran yang jelas? Apakah memangnya Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan untuk digunakan sebagai alat meramal? Apakah untaian butir-butir biji tasbih juga dapat menentukan nasib manusia? Mengapa sebagian dari saudara kita yang beriman yang meskipun telah berkonsultasi masih saja belum mendapatkan kepastian untuk melakukan sesuatu atau meninggalkannya lalu akhirnya ia ber-istikharah setelahnya? Apakah hal ini bukan merupakan pertanda akan kurangnya pendidikan dan pengetahuan agama mereka?

Jawab: Mengenai istikharah dengan Al-Qur’an dan tasbih, banyak sekali riwayat-riwayat yang membolehkannya; dan kita tidak menemukan hal-hal lain yang bertentangan dengan sekumpulan riwayat di atas baik yang berupa dalil aqli maupun naqli. Dengan sejenak mengalihkan pandangan dari riwayat-riwayat yang saya maksud, sebenarnya dengan sendirinya kita dapat memahami hakikat dan kriteria istikharah yang sebenarnya. Pada dasarnya ketika seorang manusia menghadapi dua hal yang harus ia lakukan, yakni mengerjakan sesuatu atau meninggalkannya, ia akan memikirkan hal yang terbaik yang harus ia lakukan dan senantiasa mempertimbangkan untung dan rugi keputusan yang akan ia putuskan. Ketika ia mulai menemukan alasan untuk melakukan atau meninggalkan perbuatan yang baginya keduanya membingungkan tentang apakah harus dilakukan ataukah ditinggalkan, maka ia akan berlaku sesuai alasan tersebut. Dan jika sampai saat itu juga ia masih belum menemuakan ide dan keputusan yang tepat, maka ia akan berkonsultasi dengan sesamanya yang kemudian jika dengan jalan ini ia mampu memberikan keputusan untuk melakukan atau meninggalkan pekerjaan tersebut, maka ia akan berlaku sesuai dengan keputusannya. Tetapi jika ia masih saja belum mampu memberikan keputusan yang tepat, dan ia masih berada dalam kebimbangan mengenai apakah ia harus melakukan pekerjaan tersebut ataukah harus meninggalkannya, ia dapat mengambil sebuah Al-Qur’an lalu menghadapkan jiwanya kepada Tuhan kemudian membukanya dan menjadikan kandungan ayat pertaman kali yang ia lihat sebagai pertolongan untuk memberikan keputusan. Dengan demikian ia dapat berlaku sesuai dengan kandungan ayat yang ia dapatkan. Yakni, dengan berserah diri kepada Tuhan, ia menjadikan ayat dan tanda kebesaran-Nya sebagai penolong kemudian ia memberikan keputusan bagi diri sendiri dengan bantuan ayat tersebut untuk melakukan atau meninggalkan sebuah pekerjaan yang sebenarnya ia boleh mengerjakannya dan boleh juga meninggalkannya. Dan perbuatan yang merupakan salah satu bentuk tawakal kepada Tuhan ini bukan perbuatan syirik dan bukan perbuatan yang merugikan agama, dan juga bukan perbuatan yang telah mengharamkan apa-apa yang halal dan mengalalkan apa-apa yang haram; entah dilakukan dengan Al-Qur’an, tasbih, atau benda-benda lain yang dapat dijadikan perantara untuk mengingat Tuan. Dan hakikatnya, istikharah adalah tawakal kepada Allah Swt dan bukan menjadikan Al-Qur’an atau tasbih sebagai sekutu Tuhan.

No comments:

Post a Comment